Sabtu, 23 Maret 2013

Jangan Bersemi Di Hutan



Melayang jauh kesuatu tempat bahkan tak tahu hinggap dan berdiam dimana ?, benar-benar asing. sesuatu yang hidup dikerumunan semak dan akar belukar adalah : bunga yang bersemi di hutan dengan napasnya yang lembab diantara semak, Ia menyuburkan akar tumbuh-nya sendiri, tak dihirau langit yang menutup telinganya dan malam selalu begitu-begitu saja, bukan hal kesabaran ketika fajar sekali waktu berhasil menerobos jenuh akar aral hutan dan mendenyutkan bunga hutan tersebut dengan hangat cahayanya. Pagi di belantara dan bunga-bunga hutan sekali itu dalam himne di kelopaknya yang baru terbuka, sebuah semi di hutan dan kau bilang "jangan...itu terlalu indah". 
Jangan bersemi di hutan cam lah bahwa hanya sesekali malam-malam di tandai dengan kemenangan, selebihnya adalah  malam sunyi yang penuh genangan serta air mata bercampur hujan. Tak seperti di luar sana : dunia sibuk dengan berbagai hiruk pikuk meski dengan sajak musim yang tak selesai, masing-masing bebas melengkapinya dengan tetes airmata atau dengan tawa bahagia. Sebuah semi di hutan belantara  menawarkan renungan  tentang hidup bebas dan berdenyut, mungkin tanpa perlu penghayatan yang mendalam terhadap apa yang dialami oleh bunga yang bersemi di hutan : tapi tak biasa ini pastilah punya gaya ungkap yang memaksakan cara baca tertentu bahkan dengan terpaksa mengeja-nya.
Dunia hutan ketika bunga-bunga bersemi sebuah dominasi hitam menegaskan  warna hutan setiap saat, tak terhirau sepandai kau mematung, menempel atau me-liar pada keluasan yang tak terbatas ini, masih sebuah semi tak jelas, ketika malam datang dan belukar juga rumputan tajam sujud pada keheningan, sebuah kehidupan bergerak di bawah timbunan tanah basah, yang ketika menjelang malam dan pekat bersekutu dengan sunyi, bulan hanya tampak bayang-bayangnya saja : betapa semi di hutan adalah keabadian hidup yang hanya milikNya saja.
Dunia hutan tempat bunga-bunga bersemi penuh hiruk pikuk serta menajam mata pada kelopak yang membuka diri, hatihati sekali ku menyayangimu, karena aku takut seorang diri.... jika ku merekah-bunga tapi bersemi di hutan, JANGAN....waktu terlalu singkat mengentalkan diri…
Namun hatiku merangkaikan harapan pada Tuhan berikan jalan...
Cahayakanlah agar bisa kembali pulang…

#Kutipan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar